OJK Jamin Stabilitas Sistem Keuangan di Tengah Tekanan Ekonomi Global

OJK Jamin Stabilitas Sistem Keuangan di Tengah Tekanan Ekonomi Global

Walaupun di tengah tekanan ekonomi secara global seperti meningkatnya inflasi dan melemahnya beberapa sector ekonomi di dunia. OJK atau Otoritas Jasa Keuangan mengaku bahwa sistem keuangan di Indonesia masih terbilang stabil.

Lembaga ini terus bekerja dalamsegi pengaturan dan pengawasan untuk menjaga stabilitas utamanya di aspek jasa keuangan. Dengan terus mengawasi perkembangan perekonomian baik dari segi global maupun domestik dari waktu ke waktu.

Pada Bulan Juni ini, telah diadakan Rapat Dewan Komisioner Bulanan. Hasil rapat tersebut menyebut kondisi ekonomi global yang melemah. Kondisi ini dibarengi dengan tingginya inflasi dan tetap berkelanjutan.

Kondisi ini merupakan dampak dari beberapa peristiwa besar di dunia yang terjadi akhir-akhir ini. Misalnya saja, pandemic COVID-19 yang dampaknya masih bisa dirasakan sampai sekarang ini. Pandemi COVID-19 masih mempengaruhi gangguan suplai dan komoditi dunia.

Tidak hanya itu, terjadinya perang antara Negara Russia dan Negara Ukraina memberi dampak juga pada perekonomian dunia. Belum lagi, konflik geopolitik yang terjadi di antara beberapa negara-negara lain di dunia.

Kondisi ini dikhawatirkan berkembangkan menjadi situasi resesi dan inflasi global. Tentu saja, sebagai bagian dari negara dunia. Indonesia bisa terkenal dampak terutama pada bidang ekonominya.

Hal ini juga memberikan rasa khawatir pada masyarakat luas dan kondisi ekonomi di Indonesia secara keseluruhan. Namun, walaupun keadaan terlihat mengkhawatirkan pihak OJK tetap optimis dengan kondisi ekonomi di Indonesia.

Pada indikator perekonomian domestik bulan Juni 2022, tercatat adanya peningkatan ekonomi. Hal ini memang diiringi dengan inflasi inti namun perubahan pada bagian ini masih berada di level yang relatif rendah.

Berbagai sisi positif yang menyakinkan stabilitas ekonomi Indonesia, misalnya kondisi neraca peragangan yang surplus karena didorong dengan tingginya angka ekspor Indonesia. Hal ini menguatkan devisa Juni 2022 yang tercatat meningkat dan menguat jumlahnya.

Ekonomi investasi di Indonesia juga memiliki catatan baik dengan rerata yield SBN yang meningkak 12,2 bps mtd pada setiap tenor yang ada. Tingginya volatilitas pasar keuangan global mendorong keluarnya investor pasar negara berkembang termasuk di Indonesia.

Hingga 26 Juli 2022 kemarin, tercatat pasar modal mengumpul dana sebesar Rp123,5 triliun. Emiten baru yang tercatat sebanyak 32 emiten, kondisi ini belum maksimal karena pada pipeline masih ada 93 rencana emisi. Nilainya pun cukup fantastis yaitu Rp61,52 triliun.

Fungsi intermediasi Menunjukan Respon Positif

Fungsi intermediasi adalah indkator yang menunjukan peningkatan ekonomi suatu wilayah. Funsgi ini akan meningkat atau mengalami perubaha seiring dengan peningkatan perekonomian domestik.

Melalui nilai fungsi ini, dapat dilihat bagaimana perkembangan ekonomi secara keseluruhan di suatu wilayah. Berdasarkan beberapa aspek yang industri yang ada dijalankan.

Berdasarkan fungsi ini, secara keseluruhan Indonesia memiliki nilai yang cukup positif. Pada sektor perbankan misalnya, kredit tumbuh besar sebesar 10,66% yoy. Hal ini didorong oleh pertumbuhan kredit korporasi dan konsumsi.

Kenaikan terbesar dipegang pada sektor manufaktor yaitu sebesar 38,3% mtm. Nilai ini disusul oleh sektor pertambangan yang mengalami pertumbuhan sebesar 23,5% mtm. Pada sektor IKNP, tercatat pertumbuhan sebesar 0,60% pada periode per Juni 2022.

Angka ini memwakili transaksi sebesar Rp156,98 triliun di sektor ini. Secara keseluruhan angka ini lebih besar dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2021. Menunjukan perkembangannya.

Dari aspek permodalan, Lembaga jasa keuangan ini mencatatan konsisi yang semakin baik. Keseluruhan dari industri perbankan mencatat adanya peningkatan 24,69% pada bagian CAR. Hal ini menunjukan menguatnya ekonomi Indonesia pada bagian keuangan.

Pada industri asuransi jiwa maupun  umum tercatat RBC sebesar 481% dan 318%. Angka ini berada jauh dari rasio dasar sebesar 120%. Hal yang sama terjadi pada gearing ratio perusahaan pembiayaan. Tercatat rasionanya sebesar 1,98 kali lebih besar di bawah batas maksimum 10 kali.

Pada bidang perlindungan konsumen, OJK sudah melakukan 165.000 layanan informasi dan pengaduan konsumen. OJK sendiri sudah membuka berbagai kanal agar masyarakat lebih mudah menjangkau layanan dan pengaduan OJK.

Sebanyak 19% pengaduan merupakan layanan sektor perbankan. Sedangkan 31% merupakan layanan IKNB terutama pada fintecth P2P Lending, asuransi, dan pembiayaan. Sedangkan sebagian kecilnya ada pada layanan pasar modal sebesar 0,01% saja.

Untuk sisanya merupakan layanan yang berada di luar jasa keuangan. Namun tetap dilayani dan dapat dikonsultasikan dengan OJK. Banyak informasi yang bisa didapatkan, pertanyaan biasanya didominasi dengan informasi keuangan, LJK, fraud ekstrenal dan sebagainya.

Dengan kondisi yang menunjukan situasi positif ini, OJK berusaha untuk memperkuat koordinasinya dengan stakeholder. Dengan tujuan agar dapat menjega stabilitas sistem keuangan.

Apalagi, dalam antipasti peningkatan resiko eksternal yang terjadi secara glbal. Hal ini karena dampaknya bisa merentet dan menjadi ancaman terhadap stabilitas sistem keuangan yang sudah dibangun


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *