Kenaikan Margin Bunga Bank di Tengah Ekonomi yang Menantang

Kenaikan Margin Bunga Bank di Tengah Ekonomi yang Menantang

Kondisi ekonomi baik di Indonesia maupun dunia memang bisa dibilang tengah menghadapi saat-saat yang mengkhawatirkan. Situasi ini menghadirkan berbagai tantangan baru untuk perekonomian negara dan industri yang terlibat di dalamnya.

Salah satunya, adalah industri perbankan yang bisa dibilang akan terkena dampak langsung dari perubahan iklim ekonomi dunia maupun Indonesia. Namun, siapa sangkan di tengah kondisi ekonomi yang menantang terjadi perkembangan positif pada industri bank.

Salah satunya adalah margin bak yang terus tumbuh walaupun di tengah keadaan ekonomi yang sulit. Hal ini berat Net Interest Margin atau NIM yang tercatat meningkat pada sejumlah bank.

Bagi yang masing dengan istilah ini, Net Interest Margin adalah marjin bunga bersih yang merupakan ukuran yang membedakan antara Bunga dari pendapatan yang diperoleh bank atau Lembaga keuangan. Dengan jumlah bunga yang diberikan kepada pemberi pinjaman.

Net Interest Margin atau NIM ini dinyatakan dalam bentuk presentasi yang memwakili apakah Lembaga keuangan memperoleh pinjaman yang diberi pada periode waktu tertentu. Jumlah ini dbagikan dengan rata-rata aktiva tetap pada pendapatan yang diperoleh.

Tentu saja, pendapatan yang diperoleh yang dimaksud adalah pendapatan yang diperoleh pada jangka waktu pinjaman tersebut. Pengelolaan pada aktiva produktif sehingga dapat menghasilkan laba bersih yang dikurangi dengan beban bunga.

Peningkatan NIM Pada Bank-Bank di Indonesia

Peningkatan ini terjadi di beberapa bank yang ada di Indonesia. Salah satunya adalah Bank Victoria di Indonesia. Bank ini berhasil meningkatkan Net Interest Margin atau NIM sebesar 1,61% pada bulan Juni 2021 kemarin.

Kemudian, pada periode tahun ini yaitu pada Bulan Juni 2022 meningkat menjadi 3,21%. Menurut Caprie Ardira yang merupakan Sekretaris Perusahaan Bank Victoria, hal ini berkat strategi yang sudah disiapkan oleh perusahaan.

Berbagai strategi yang dilakukan oleh Bank Victoria adalah dengan memberikan kredit yang lebih prudent. Selain itu, adanya solusi untuk menyelesaikan kredit bermasalah hal ini untuk meningkatkan yield dan portofolio dari kualitas kredit.

Strategi lain yang dilakukan oleh Bank Victoria adalah dengan menurunkan biaya bunga. Terutama, atas dana pihak ketiga atau DPK. Produk-produk yang dipengaruhi seperti Deposito. Hal ini tetap dibarengi dengan penjagaan likuiditas di level yang memadai.

Perkembangan diharapkan Bank Victoria tidak berhenti sampai di sini. Karena itu, Bank Victoria kembali memasang target untuk pertumbuhan kredit di segmen dengan yield tinggi. Misalnya di kredit komersil dan usaha menengah.

Rencana ini juga harus dibarengi dengan beban Bunga dana pihak ketiga yang tetap rendah. Namun, harus tetap kompetitif dengan perkembangan pasar. Hal ini agar konsumen tidak kehilangan keuntungannya.

Dengan strategi ini Bank Victoria mengharapkan, Net Interest Margin atau NIM yang dimiliki tetap terjaga di rate 3%. Terutama, sampai akhir tahun 2022 nanti.

Kondisi serupa ternyata dialami juga oleh Bank BRI yang mamu mencetak pendapatan Bunga bersi dengan maksimal. Bank BRI ini memang cukup agresif dalam menyalurkan kredit sekalipun pada masa pandemi COVID-19 menyerang.

Pada Juni 2022 tercatat konsolidasi BRI naik signifikasi dari 7,41% menjadi 8,24%. Pada sistem onlinenya juga terjadi peningkatan dari 7,02% menjadi 7,35%. Peningkatan ini terjadi pada periode Juni 2021 hingga Juni 2022 ini.

Target selanjutnya dari Bank BRI adalah untuk mencapai NIM level di 7,6%-7,8%. Kemudian, terus mempertahankannya pada level tersebut. Tentu saja, sama seperti Bank Victoria, Bank BRI sudah menyiapkan sejumlah strategi untuk meraih target tersebut.

Fokus Bank BRI sekrang adalah ekspansi terhadap pinjaman. Terutama, pada pinjaman yang memiliki high yield pada segmen mikro dan juga konsumen. Hal ini diungkapkan oleh Oryza Gunarto yang merupakan Sekretaris Perusahaan BRI.

Peningkatan kerja perusahaan ini juga tidak lepas dari peningkatan dana murah atau CASA. Bank BRI pada sisi DPK tumbuh dari 3,70% yoy menjadi 13,38% yoy. Presentase ini memewakili total Rp1.139,98 trilian yang ditompang oleh pertumbuhan CASA perusahaan ini.

Secara umum, porsi CASA Bank BRI sudah meliputi 65,21% dan meningkat secara signifikan dibandingkan realisasinya pada tahun lalu yakni pada presentase sebesar 58,65%. Jika dirinci lagi, pertumbuhan giro sebesar 25,63% dan tabungan 8,32%.

Tak berbeda dengan kedua bank di atas, walaupun tergolong baru kehadirannya. Namun, Bank Jago juga dapat menuliskan kenaikan NIMnya. Pada Bulan Juni 2022 misalnya, bank digital ini berhasil mencapai peningkatan yang signifikan.

Dari margin bunga sebesar 5,04% di tahun sebelumnya menjadi 10,83% di periode ini. Peningkatan ini berkat pertumbuhan pendapatan bunga dan syariah Bank Jago yang tumbuh tinggi melebihi perkriasaan.

Kedua sektor tersebut mencatat peningkatan sebesar 340% yang memwakili jumlah uang Rp705 miliar pada kuartal kedua tahun 2022 ini. Total bunga bersih yang didapatkan tercatat sebesar Rp641 miliar. Artinya ada pertumbuhan sebesar 361% secara yoy.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *